Selow.

Yakobus 1 : 19-27

Kejadian ini berlangsung beberapa tahun lalu. Saya sedang asyik mengunyah Indomie goreng saat Papa duduk di seberang meja, menyeruput teh, lalu memindah saluran televisi ke tayangan debat isu politik yang membuat saya auto-bete. Menonton para pria paruh baya berdebat kusir di media nasional dengan kening berkerut-kerut dan suara tinggi sambil saling berlomba memotong argumen lawan bicaranya sudah pasti akan mengurangi kenikmatan mi goreng sore itu. 


 “ Mbok ya ngomong yang enak, mereka  gak tau ya kalo marah-marah di tivi itu malah jadi bahan guyonan yang nonton.” ujar saya kesal setelah beberapa menit berlalu.

“Mana bisa,” sahut Papa. “Berhadapan sama orang marah itu kayak palu versus pasak. Udah gak rasional karena percaya dia yang paling bener. Apapun dan bagaimanapun kita  omongin, cuma bakal bikin dia makin  mancep di opininya sendiri”.

Odoo CMS- Sample image floating

Kehidupan ini tidak mungkin bebas dari gesekan dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan segala agenda, sifat, pengalaman, didikan, dan jutaan perbedaan lainnya, merasa tersinggung atau sakit hati karena perkataan atau ulah orang lain mungkin menjadi makanan sehari-hari. Bahkan saking terbiasanya, kerap kita mengabaikan respon refleks kita terhadap perlakuan yang tidak menyenangkan: kemarahan. Kemarahan tidak selalu meledak-ledak, kemarahan dapat hadir dalam bentuk keluhan, mendiamkan orang yang bersangkutan, menutup diri, atau tindakan pasif-agresif yang menunjukan bahwa kita terluka.


Namun satu yang pasti, kemarahan membutakan. Kemarahan dapat muncul sebagai suara yang mengatakan  saya benar, ia salah, ia telah melukai saya, saya membencinya atau justru  saya tidak berharga, saya takut, keduanya sama-sama mengaburkan pandangan kita terhadap diri sendiri dan orang di sekitar serta memengaruhi cara kita menghadapi masalah. Membuat kita enggan mendengar apalagi berrekonsiliasi. 


Puasa maupun pantang di masa Pra-Paska ini tidak hanya sekedar mengurangi konsumsi hal-hal material, namun yang paling penting adalah tentang penguasaan diri. Termasuk sifat manusiawi yang telah menjadi respon refleks dalam keseharian seperti kemarahan.  Yakobus 1:19-27 berisi tentang perintah Tuhan agar kita  “cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” alias kalo netizen bilang…. “Selowwww”. Caranya gimana, sodara-sodara? Dalam perikop tersebut disebutkan dengan menerima lemah lembut firman yang tertanam di dalam hati kita. Mendengarkan suara Tuhan yang menenangkan dan mendamaikan, sebelum merespon segala luka dan sakit hati.


Kawan-kawan, disakiti adalah sebuah peristiwa yang tidak dapat kita hindari. Kita tak dapat selalu menentukan bagaimana orang lain akan memperlakukan kita. Namun, untuk melanjutkan hidup dengan menyimpan kemarahan adalah sebuah keputusan yang pilihannya ada di tangan kita. Bersama Roh Kudus yang selalu bersama kita, kiranya kita dimampukan untuk selalu memilih kebaikan, cinta kasih, dan damai sejahtera yang memancarkan terang Kristus.


Pokok Doa

Tuhan, bantu kami untuk dapat selalu mendengar suaraMu sebelum meresponi luka dan sakit hati dalam kehidupan ini. Biarlah Roh Kudus selalu ada bersama kami dan memampukan kami menjauhi kemarahan, dan memilih kebaikan serta kasih. Amin.