Saya Bukan Malaikat

“Jargon “Saya bukan malaikat” menjadi kunci pembuka permohonan maaf saya. Mohon dimaklumi bila saya salah, tetapi saya janji akan terus berusaha berubah. Namun, “Saya bukan malaikat” juga bisa menjadi tempat persembunyian yang baik dari semua tuntutan untuk mengalami proses pembaruan budi yang ditujukan kepada saya.”

Setiap Masa Adven saya sering melihat ornamen malaikat. Barangkali karena malaikat adalah pembawa berita sukacita Natal. Kehadiran malaikat yang membawa berita bahagia itu juga saya nantikan. Saya teringat jargon seperti judul di atas. Bisa jadi saya sering menyebutkan jargon itu saat ada orang yang membicarakan tentang banyak hal dalam kehidupan saya yang tidak sempurna. Setiap ada yang komplain dengan kelakuan, karakter atau apapun yang sudah saya lakukan, saya bisa menjawab mereka dengan kalimat: “Saya bukan Malaikat”.

Odoo CMS- Sample image floating

Ada kalanya saya menjawab itu berlandaskan ketulusan bahwa saya memang bukan malaikat yang tidak bisa salah. Saya  menyesal bila saya sudah salah. Saya berjanji akan berubah dan terus berusaha berubah. “Saya bukan malaikat” menjadi kunci pembuka permohonan maaf saya. Mohon dimaklumi bila saya salah, tetapi saya janji akan terus berusaha berubah.

Namun, ada kalanya saya cukup sakti menggunakan jargon judul tadi untuk bilang bahwa saya memang bukan malaikat yang katanya sempurna. Jadi, jangan pernah minta saya untuk jadi sempurna. Jangan minta saya untuk berubah, saya bukan malaikat. Jargon itu bisa jadi tempat untuk bersembunyi dari semangat pembaharuan yang akan Tuhan mulai dengan Natal. Kalau saya dianggap nakal itu karena saya memang  bukan mailaikat. Kalau ada yang kecewa dengan saya, itu karena saya bukan mailaikat. Saya juga bukan malaikat yang baik, jadi cukup terima saya seperti ini jangan minta saya untuk berubah. “Saya bukan malaikat” bisa menjadi jadi tempat persembunyian yang baik dari semua tuntutan untuk mengalami proses pembaruan budi yang ditujukan kepada saya.

Bila Natal adalah awal proses karya Allah untuk pembaruan dunia, maka di masa adven ini, saya pun harus bersiap untuk menyambut karya Allah untuk mengubah saya. Apalagi, katanya manusia itu akan menghakimi malaikat-malaikat (1 Kor 6:3). Apa perlu saya masih tetap kukuh pada judul itu hanya karena saya malas berubah demi pembaruan budi? Natal adalah karya Allah yang mengubahkan umat manusia. Masa Adven ini semoga menyiapkan saya untuk menyambut proses pengubahan oleh Allah demi menyambut kasih Allah yang senantiasa ada itu

Saya lebih dari malaikat, karena Tuhan menganugerahkan akal budi untuk terus berubah oleh pembaruan budi.