Power of Words

Yakobus 3 : 5-12


Odoo CMS- Sample image floating

Sewaktu kelas 2 SD, saya pernah dibully oleh seorang teman. Agama kami berbeda. Dia muslim. Di depan saya, ia mengolok-ngolok Yesus yang disalib. Perkataannya membuat saya marah. Tetapi karena tak mampu melawan, saya malah menangis. Sampai akhirnya wali kelas melihat kami. Setelah tahu apa yang terjadi, beliau yang juga seorang muslim menasihati teman saya dan menyuruhnya untuk meminta maaf. Saya tidak ingat detail apa yang beliau katakan. Tapi yang pasti kata- kata itu menyembuhkan. 


Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa kata-kata memiliki pengaruh yang kuat. Baik untuk melukai, maupun untuk menyembuhkan. Seperti tertulis di dalam Amsal 15:4  bahwa lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati. Atau seperti kata Rasul Yakobus bahwa lidah seperti api yang dapat membakar hutan. Kata-kata yang kita pilih akan turut menentukan jalan cerita selanjutnya. Apakah seseorang dikuatkan atau malah merasa sangat dilukai. Apakah perkataan itu mendamaikan atau malah memicu pertengakaran. Apakah perkataan kita menjadi berkat atau malah menghina ciptaan Tuhan. Jika kita tidak mampu memilah mana yang perlu dikatakan dan yang tidak, maka kita tinggal menyiapkan diri menghadapi perkara besar. Itulah sebabnya menjaga perkataan menjadi elemen penting dalam membangun relasi yang baik dengan sesama.


Hari ini bijak berkata-kata bukan hanya perkara mengendalikan lidah, melainkan juga mengendalikan jari-jemari. Sebab di era digital ini, suara kita mungkin tak terdengar, tetapi jemari kita aktif di atas papan ketik. Karena tidak bertatap muka, bukan berarti kita bisa bebas saja membalas percakapan, menulis status atau menulis komentar. Semua ada konsekuensinya. 


Rasul Yakobus pernah menulis bagi kedua belas suku di perantauan. Ia berpesan bahwa iman yang hidup dinyatakan melalui perbuatan. Salah satunya dengan mengendalikan perkataan. Lebih dari perkara sopan santun kultural, mengendalikan perkataan adalah wujud nyata dari iman yang hidup. Mengendalikan perkataan memang tidak mudah. Namun bukan berarti tidak ada yang dapat kita lakukan. Perkataan kita akan seturut dengan Firman Tuhan jika hati dan pikiran kita terus menerus dipenuhi Firman Tuhan.