Mengenai Sebuah Penantian

“Dengan segala kesibukan kita, beban pikiran dan segala keterbatasan karena masa pandemi, marilah kita menanti anak Allah dengan hati yang besar, dengan tulus dan penuh harap.”

 Tidak terasa tahun 2021 hampir berakhir, memasuki bulan Desember yang sangat dinantikan oleh sebagian orang. Desember juga identik dengan hari Natal. Hari di mana kita memperingati kelahiran Yesus Kristus, Sang anak Allah yang lahir dari keluarga sederhana,  di tempat yang sederhana. Sebelum Natal, kita memasuki masa adven sebagai masa penantian dan persiapan Natal. Adven juga merupakan waktu dan kesempatan bagi gereja, termasuk kit,a untuk menyiapkan diri, menyiapkan hati secara khusus bagi kedatangan-Nya pada hari raya Natal.

 “Masa penantian” bisa dikatakan tidaklah mudah untuk dijalani. Terlebih di masa pandemi yang hampir semua aktivitas dilakukan melalui media online. Kuliah, pekerjaan dan bahkan persekutuan rutin yang dilakukan secara online terkadang membuat sebagian dari kita secara tidak sadar mengeluh. Kondisi seperti ini cukup membuat beberapa dari kita kewalahan. Terutama memasuki minggu akhir tahun yang penuh dengan deadline (baca: tenggat waktu). Baik dari kantor, maupun tugas sekolah.

Odoo CMS- Sample image floating

Dalam masa adven yang penuh dengan penantian ini, Ingatkah kita pada kisah Maria? Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Maria yang kala itu mengandung anak tanpa ia rencanakan. Anak yang dianugerahkan oleh Roh Kudus kepada Maria, bahkan saat Maria belum berstatus menikah dengan Yusuf. Bisakah kita membayangkan bagaimana keadaan dan beban tekanan yang Maria hadapi saat itu? Namun Maria mengambil keputusan yang berani untuk mengandung dan menjaga anak tersebut hingga lahir. Hari kelahiran semakin dekat dan Maria menyiapkan diri dengan memegang komitmennya sejak awal untuk membiarkan anak tersebut lahir dari rahimnya. Saya merasa bahwa peran Maria cukup penting dan berisiko tinggi. Maria rela menanggungnya hanya agar Kehendak Allah menjadi lengkap. Berisiko karena pada zaman tersebut tradisi Yahudi sangat memandang hal itu sebagai nista atau dosa yang sangat besar. 

Natal, hari yang dinantikan, adalah kisah mengenai Sang Anak yang dinantikan dan telah lahir ke dunia sekitar 2000 tahun lalu. Jika kita merenungkannya kembali, apa makna dari semua perayaan itu? apakah tentang Yesus? atau kita? atau hanya sekadar kisah rutin yang kita rayakan setiap tahunnya?. Setelah merenungkannya, marilah kita mencoba memaknai masa penantian ini seperti Maria kala itu. Dengan segala kesibukan kita, beban pikiran dan segala keterbatasan karena masa pandemi, marilah kita menanti anak Allah dengan hati yang besar, dengan tulus dan penuh harap. Dalam Yesaya 40:31 dikatakan bahwa “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”. Dengan kita semakin semangat dalam menantikan kehadiran-Nya dimasa adven ini, hendaknya kita semakin dikuatkan dalam segala kesibukan kita. Karena segala penyertaan-Nya tiada habisnya, di mana pun, dan kapan pun Allah akan selalu ada untuk membantu meringankan kita yang berbeban berat, dan lesu. Janganlah kita hilangkan semangat adven kita. Semangat penantian bagi Dia yang akan datang sebagai  Juru Selamat kita. Tuhan Memberkati.