Menanti Dalam Kebaikan

“Sesungguhnya kebaikan yang sejati adalah kebaikan yang disertai dengan sebuah ketulusan, yang tidak mengharapkan imbalan, yang bisa memberikan dampak positif dan dengan dilandasi rasa syukur.”

Dalam sebuah kesempatan, saya membaca kisah sederhana. Sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Kisah itu tentang seseorang yang menceritakan pengalamannya naik angkot. Angkot yang dinaikinya dikemudikan oleh seorang anak muda. Di dalam angkot tersebut masih tersisa untuk 4 orang penumpang. Seperti biasa, di jalanan angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Namun dari jauh ada sebuah pemandangan “aneh” yang terjadi depan angkot yang ia tumpangi. Ia melihat ada seorang Ibu bersama tiga anaknya. Ada yang masih berusia kecil dan juga ada yang remaja. Mereka berdiri di tepi jalan. Setiap ada angkot berhenti, si Ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu segera melaju kembali. Kejadian itu berulang beberapa kali. Ketika angkot yang ia naiki berhenti di depan Ibu tersebut, ia mendengar si Ibu bertanya “Mas, lewat terminal ya?”. Sopir pun menjawab dengan sopan “Iya Bu”. Anehnya, si Ibu tidak segera naik. Lalu dengan nada yang memelas dia bilang, “tapi kami tidak punya ongkos.” Katanya sambil merangkul ketiga anaknya. Dengan tersenyum sopir  yang masih sangat muda itu menjawab, “tidak apa-apa Bu. Naik saja”. Si Ibu tersebut tampak ragu-ragu dengan jawaban si sopir. Lalu sopir mengulangi lagi perkataannya “Ayo, Bu, naik saja. Tidak apa-apa”. Akhirnya si Ibu dan ketiga anaknya itu pun naik angkot.

Odoo CMS- Sample image floating

Penumpang angkot tadi terpesona dengan kebaikan supir angkot yang masih muda itu. Sementara para sopir angkot lainnya berlomba untuk mencari penumpang di jam sibuk, dia justru merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si Ibu dan anak-anaknya. Semua gratis tanpa dipungut biaya. Kemudian sampailah angkot ini di terminal, dan si Ibu beserta anak-anaknya itu pun turun, lalu mengatakan terima kasih sambil menundukkan badannya. Di belakang Ibu tersebut juga ada penumpang lain yang turun sambal menyodorkan uang 50 ribu kepada sopir. Ketika sopir hendak memberikan kembaliannya, orang itu justru berkata “sudah Mas ambil saja kembaliannya. Itu untuk ongkos Ibu tadi dan anak-anaknya”.  Si sopir pun tercekat, tak mampu berkata-kata. Spontan ia menelangkupkan kedua tangannya sebagai tanda ucapan terima kasih. 

Dari kisah di atas kita pasti bisa melihat berbagai pesan moral yang disampaikan. Seorang Ibu yang sederhana yang jujur, lalu seorang supir angkot yang baik hati, dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan. Bisa dibayangkan. Andai saja semua insan di muka bumi ini seperti orang-orang itu. Tentu dunia akan takhluk oleh kebaikan dan betapa damainya hidup ini.

Itulah yang sebenarnya patut kita renungkan bersama dalam masa Adven ini. Sejauh manakah kita bisa melakukan kebaikan? Kebaikan memang memiliki makna yang luas, kadang kita bisa terjebak dengan arti kebaikan itu sendiri. Bisa jadi kita melakukan kebaikan hanyalah untuk keuntungan diri kita semata. Sesungguhnya kebaikan yang sejati adalah kebaikan yang disertai dengan sebuah ketulusan, yang tidak mengharapkan imbalan, yang bisa memberikan dampak positif dan dengan dilandasi rasa syukur.

Semoga masa Adven ini kita semua diingatkan untuk tetap setia menanti kedatangan-Nya dengan terus berusaha melakukan kebaikan-kebaikan yang telah diteladankan oleh Sang Juruselamat kita Yesus Kristus. Mari kita lakukan kebaikan yang hanya tertuju untuk kemuliaan-Nya (Kolose 3 :23). Tuhan Yesus Memberkati.