Memberi

Lukas 6 : 36

Odoo CMS- Sample image floating

Apa yang ada dalam pikiran kita saat kita mendengar kata “memberi?” Secara spontan kita mungkin akan mempertimbangkan akan sesuatu yang kita pindah-tangankan dengan sengaja dari kepemilikan kita menjadi milik orang lain. Memberi adalah proses pengurangan milik kita tapi menambah milik orang lain. Tidak salah, karena sering kali, bahkan mungkin setiap kali, dalam memberi dalam benak kita adalah perihal materi. Bisa uang, bisa benda, bisa tenaga, bisa pula bagian dari tubuh kita, dan lain-lain. Semuanya ber-acara dengan sebuah bentuk yang tampak. Tangible! Sangat sekuler! Padahal ‘memberi’ mempunyai makna yang dalam dari pada sekedar ‘memberi materi’. Makna yang dalam tentu saja adalah nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Dan ini yang layak kita renungkan sebagai orang beriman. Bukan berarti memberi materi tidak bernilai spiritual, seperti seorang janda yang disaksikan Tuhan sendiri saat dia memberikan persembahan dari ke’pas-pas’an miliknya. Bahkan Tuhan menjadikannya teladan bagi murid-murid-Nya. Recehan yang diberikan, muatan spiritualnya sangatlah tinggi. 

Ada demikian banyak memberi yang tidak perlu sampai mengurangi kepemilikan, tapi justru memiliki nilai-nilai spiritual yang sangat tinggi yang Tuhan harapkan pada diri kita. Kisah Para Rasul 20:35, menyatakan: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Bukankah bila dipikir secara nalar biasa akan menjadi anomali? Bagaimana mungkin memberi yang berarti mengurangi milik kita membuat kita bahagia? Namun itulah yang mau disampaikan, pengukuran bukan dengan sekedar materi tapi dengan kemurahan hati untuk ‘menuju ke’ menjadi sama dengan Bapa yang adalah murah hati (Lukas 6:36). Dan bukankah ‘memberi’ adalah memang sudah seyogyanya menjadi ciri kita sebagai umat Tuhan. Karena jiwa kekristenan adalah ‘memberi!’

Tuhan kita, Yesus Kristus, sendiri sudah memberikan teladan perihal ‘memberi’. Dan pemberian Tuhan selalu tidak bisa kita ukur dengan sebuah harga. Kesembuhan yang diberikan-Nya kepada seorang yang lumpuh selama 39 tahun di kolam Bethesda adalah sebuah contoh yang tak akan pernah ada harga nominalnya. Demikian pula keajaiban penomenal tak terkira saat Dia berikan kuasa-Nya dengan menghidupkan kembali Lazarus dari bilik kuburnya. Lantas siapa yang mampu memberi pengampunan pada orang-orang yang menyalibkan-Nya saat Dia ter’tempel’ pada Palang Salib meregang nyawa. Dan lebih dari semua bentuk pemberian, Yesus adalah wujud cinta kasih Allah yang diberikan kepada manusia, supaya setiap kita yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

“Setiap orang dapat memberi tanpa mengasihi, tapi tak seorangpun dapat mengasihi tanpa memberi” 

Pokok Doa

Tolong Tuhan, untuk mengajari kami senantiasa berpikir memberi terlebih dulu sebelum kami berharap menerima, seperti yang sudah Engkau teladankan, memberi tanpa berpikir untuk menerima