Bubur Ayam dan Harta Warisan

“Rupanya memberikan kabar dan tindakan baik yang orang tua kami lakukan dan kebiasaaan untuk selalu mendengarkan Firman Tuhan setiap hari menjadi harta warisan iman yang berharga bagi kami - anak-anak mereka. Mereka meninggalkan jejak kaki yang jelas tentang tindakan bersyukur sebagai umat tebusan.”

Ada suatu malam Natal yang saya ingat saat saya dan empat saudara saya masih usia sekolah. Ibu kami membuat bubur ayam dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada para tetangga. Tugas kami anak-anaknya mengantar bubur itu ke beberapa tetangga. Malam itu udara cukup dingin. Di depan toko kami ada seorang gelandangan pria dengan pakaian lusuh terbaring di trotoar. Dia menyeret badannya untuk bersandar ke pintu toko (gebyok) kami untuk berlindung dari angin malam. Beberapa teman dan tetangga keluar dari rumah menyaksikan gelandangan asing ini. Mungkin karena ada yang memberi tahu, ibu kami keluar rumah dengan membawa semangkok bubur ayam dan ketika gelandangan itu mau menerima tawaran bubur, ibu kami mulai menyuapinya. 

Odoo CMS- Sample image floating

Selain kelaparan, gelandangan itu juga mengaku sakit padaran (Jawa: sakit di bagian perut). Setelah  memberi obat, kami semua masuk rumah lagi utuk memulai ibadah singkat malam Natal. Ibu sama sekali tidak mengenal gelandangan itu, tetapi tetap memberinya makan dan obat. Saat ditanya apa alasannya, Ibu kami menjelaskan, “Gelandangan tadi bisa jadi merupakan utusan Tuhan atau malaikat Tuhan yang mewujud rupa sebagai gelandangan, dan kita sebagai anak-anak Tuhan terpanggil untuk menolong atau berbagi pada orang-orang yang sedang membutuhkan sesuatu, terlebih saat mereka dalam keadaan sakit, walaupun orang itu belum kita kenal.”. Penjelasan itu bagi kami sesuatau yang masih belum dapat diterima akal dengan mudah.

Saat memasuki adven kali ini, ingatan akan peristiwa gelandangan puluhan tahun lalu  itu muncul lagi dengan cukup jelas.  Beberapa peristiwa lain saat ayah dan ibu kami menolong orang lain juga muncul dalam tahun-tahun belakangan ini melalui cerita-cerita dari beragam sumber. Mungkin saat tahu ayah dan ibu kami sudah berpulang ke rumah Bapa, mereka  ingin berterima kasih karena mendapatkan pertolongan di masa-masa lalu dari orang tua kami. Ayah dan ibu kami dapat dikatakan tidak mewariskan harta benda berharga kepada anak-anaknya. Tetapi yang jelas kami kenang dan warisi, mereka setiap malam mengajak kami untuk ikut kebaktian keluarga singkat. Kami membaca beberapa ayat Alkitab dan mendengarkan bacaan renungan dari buku Saat Teduh. Sebuah warisan iman yang dibangun dari saat kami berusia anak-anak.

Rupanya memberikan kabar dan tindakan baik yang orang tua kami lakukan dan kebiasaaan untuk selalu mendengarkan Firman Tuhan setiap hari menjadi harta warisan iman yang berharga bagi kami -  anak-anak mereka. Mereka meninggalkan jejak kaki yang jelas tentang tindakan bersyukur sebagai umat tebusan. Oleh karenanya, kabar Natal tentang prakarsa Allah Bapa memberikan Putra-Nya sebagai Penebus patut saya nantikan dan sambut dengan semangat memberikan kabar dan tindakan baik kepada sesama. Selamat menanti, Tuhan memberkati.(yahud)